“Saya Harap Kita (Warga Minang) Berikan Maaf Itu”

Nasrul Abit, Wakil Gubernur Sumatera Barat
Nasrul Abit, Wakil Gubernur Sumatera Barat (KLIKPOSITIF.com/Adil Wandi)

Kerusahan di Wamena Papua menyebabkan jatuhnya korban hingga meninggal dunia. Ribuan orang mengungsi. Masyarakat Minang (Sumbar) yang terdampak langsung dengan kerusuhan menyatakan ingin pulang. Tak sedikit pula di antaranya menyatakan ingin bertahan. Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, datang langsung ke sana untuk memastikan apa yang terjadi dan mencarikan solusi. “Saya ingin melihat kondisi riil supaya informasinya tidak simpang siur,” ujarnya kepada jurnalis KLIKPOSITIF .com.

Banyak yang memuji langkah Pemprov Sumbar turun langsung ke Papua. Bisa diceritakan latar belakang keputusan itu diambil?

baca juga: Ini Riwayat Perjalanan WNA di Sumbar yang Positif COVID-19

Saya, Selasa malam, dapat informasi bahwa masyarakat kita di Wamena Papua meninggal 9 orang akibat kerusuhan yang terjadi pada 23 September 2019. Korban ini mau dibawa pulang tapi belum tahu bagaimana teknisnya, baik itu transportasi maupun peti. Saya waktu itu sedang di Jakarta.

Besoknya, saya koordinasi dengan bupati Jayapura. Menurut bupati, mereka sudah mengadakan rapat dan siap menanggung biaya transportasi, tapi terkendala dengan peti. Kendala ini saya sampaikan kepada Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Saya kemudian menelpon Baznas untuk meyediakan peti. Dan, pada Kamis (26/9), jenazah sampai di Bandara Internasional Minang (BIM).

baca juga: Kasus Positif COVID-19 di Sumbar 567 per 1 Juni, Persentase Sembuh di Angka 47,09 Persen

Setelah korban sampai di sini, banyak sekali informasi yang beredar. Ada yang ingin pulang, ada yang ingin bertahan, ada juga yang mengatakan kerusuhan meluas. Akhirnya saya rapat dengan gubernur, Biro Sosial, Bina Sosial, Biro Rantau dan Baznas menyikapi kondisi kekinian.

baca juga: Berikut Rincian 15 Pasien Positif Corona Sumbar per 31 Mei, dari WNA Irlandia hingga Nenek 90 Tahun

Saya bilang ke Gubernur, “Pak, ini sepertinya serius.” Saran saya, utus tim kesana utuk melihat kondisi riil. Maka direncanakan tim untuk berangkat. Tapi, saya juga mikir, ini kan perlu koordinasi karena yang terjadi adalah konflik sosial. Di satu sisi hubungan dengan pemerintah provinsi perlu dijaga.

Bukannya tidak mempercayai orang lain, tiba-tiba secara spontan saja saya bilang ke Pak Gubernur, “atau saya saja yang berangkat?” Gubernur merespon, “Rancak bana. Kalau Pak Wagub turun, beres ini,” ujar gubernur. Itu jam tiga sore, pada Sabtu, 28 September 2019.  Malamnya, saya langsung terbang ke Jayapura, Papua.

baca juga: Update COVID-19 Sumbar 31 Mei, 15 Kasus Positif Baru, Sembuh Bertambah 10

Apa yang Anda temukan di sana?

Misi saya adalah melihat kondiri riil. Kalau perlu diselamatkan, selamatkan segera. Pikiran awal saya, apakah penyerangan ini hanya kepada masyarakat Minang. Ini juga perlu saya verifikasi. Sebab ini tagak kampuang bela kampuang.

Setelah sampai di Jayapura pagi Minggu, saya ketemu dengan Wakapolda. Situasi sudah mulai kondusif. Kami didampingi Mayor Joni, orang Lubuk Alung, Kasi Ops di Korem. Sudah pas lah. Kami lalu berbincang dengan  Ikatan Keluarga Minang (IKM) yang sudah menunggu. Kami makan siang bersama-sama di rumah pengungsi.

Mereka (perantau Minang) bercerita semuanya. Soal keamanan, rumah habis dibakar, sekarang tidak punya apa-apa lagi. Saya menangis mendengar cerita mereka. Kesimpulan dari pertemuan itu, ada yang pulang, ada yang tetap ingin tinggal. Jumlahnya sekitar 172 orang, 20 persen di antaranya menyatakan tidak mau pulang.

Siangnya, saya bertemu Danrem. Danrem menceritakan bahwa pihak keamanan telah menjamin keamanan masyarakat. “Semua anggota kita ada di lapangan,” ujar Danrem. Malamya, saya bertemu dengan Walikota Jayapura (di Jayapura ada kabupaten dan kota). Dia menceritakan asal muasal penyebab kerusahan. Kesimpulannya, konflik ini bukanlah antara Orang Asli Papua (OAP) dan pendatang. Tidak ada perang antara masyarakat Wamena dengan pendatang.

Menurut Walikota, masyarakat Wamena dengan pendatang sudah menyatu. Pendatang berperan dalam perdagangan, mereka jual pinang, buka usaha rumah makan, dan sebagainya. Orang Minang di sana menguasai perdagangan sembilan bahan pokok dan rumah makan.

Apa solusi yang diberikan pemprov untuk warga Minang di Papua?

Solusinya ada dua, yaitu tetap tinggal atau pulang ke kampung halaman. Keduanya akan dibantu oleh pemerintah. Saya ceritakan kondisi di pengungsian. Orang Minang itu mengungi di Kantor Kodim, sementara jumlah keseluruhan pengungsi pada waktu itu sebanyak 8.200 orang dari semua suku.

Mereka yang mau pulang ke kampung karena trauma dan harta sudah habis. Mungkin akan lebih baik tinggal di kampung. Sementara yang bertahan rata-rata masih punya aset. Artinya, ada harapan untuk membangun kembali karena pemerintah juga sudah mendata dan menyatakan siap membangun kembali toko atau rumah yang hancur.

Awalnya ada sekitar 1.470 orang yang menyatakan mau pulang ke kampung halaman. Dari angka ini, 309 orang tidak diketahui keberadaanya. Artinya, bisa jadi mereka pulang sendiri dan tidak melapor melalui IKM. Sementara yang sudah dipulangkan melalui kapal laut sebanyak 300 orang. Prediksi saya, paling banyak sekitar 700-an orang lagi yang mau akan pulang.

Kita juga mengumpulkan dana untuk membantu saudara kita menghadapi musibah ini. Sampai hari ini telah terkumpul donasi sekitar Rp4 miliar. Penggunaan uang ini akan kita rapatkan lagi. Tapi rencananya, uang ini akan digunakan untuk diberikan kepada mereka yang tinggal disana. Uang yang diberikan dapat digunakan untuk membagun usaha lagi. Donasi ini juga akan dimanfaatkan untuk memulangkan bagi yang ingin pulang.

Gubernur Papua sudah menyampaikan permintaan maaf untuk masyarakat Minang. Tanggapan Anda?

Secara pemerintahan, tentu kita maafkan. Secara pribadi, tentu kita minta kepada masyarakat mau memberikan maaf itu. Tapi saya tidak bisa paksa masyarakat melakukannya (memberi maaf).

Gubernur Papua telah mengatakan kepada saya akan menjamin toko-toko masyarakat Minang yang bertahan di sana dibangun kembali. Mudah-mudahan dengan ini masyarakat bisa memaafkan. Jangan ada dendam. Masyarakat kita masih banyak di Papua. Kita tentu tidak mau hubungan baik rusak. Orang Minang tidak pernah konflik di luar.

Imbauan Anda untuk masyarakat Sumbar?

Kepada masyarakat Sumbar, di kampung atau rantau, pertama, jangan menerima isu-isu yang tidak jelas. Kemudian, jangan membuat pernyataan yang memancing sehingga akan menimbulkan konflik baru. Keluarkan pernyataan yang menenangkan.

Bagi warga Minang di Papua, kalau kira-kira situasi sudah aman, silahkan lanjutkan usaha. Kalau pulang kami juga tidak keberatan. Kami akan bantu.

[Andika D Khagen]

Penulis: Adil Wandi